Ini Loh 16 Penendang Free Kick Terbaik Sepanjang Masa, No 1 Memang Rajanya!

Image
Ketika seorang pemain berhenti dari jarak 25 meter dari gawang untuk bersiap mengambil tendangan, penonton terdiam dan menunggu dalam antisipasi. Ia tahu apa yang akan terjadi. www.sportstardom.com Bagi banyak orang, akan ada sedikit kekhawatiran. "Wah, ini bisa menjadi masalah besar bagi kiper," atau "Ini akan menjadi sebuah tembakan yang hebat dan menakjubkan.! Ini bukan tentang sekedar para pemain biasa. Ini adalah tentang para spesialis yang memiliki keterampilan khusus dalam eksekusi sepakan bola mati, yang bisa membuat pihak lawan berpikir, "Uh-oh, ini bisa jadi masalah." Ini tentang para pemain yang memiliki keteguhan mental — diselaraskan dengan kecemerlangan teknis — untuk menembakkan bola ke atas atau melewati pagar hidup, melewati kiper yang terkejut, dan masuk ke bagian belakang gawang. Ini tentang mereka yang bisa melakukannya lagi. Dan lagi. Dan berikut 16 penendang free kick terbaik sepanjang masa, seperti yang kami kutip dari blea...

Anies Diminta Tidak Lagi Berdrama Soal APBD DKI

Jakarta – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2018 dibawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai kurang transparan dalam proses pengelolaannya. Hal itu membuat Direktur Eksekutif Center Budgeting Analysis Uchok Khadafi membandingkannya dengan APBD semasa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Anies dinilai cenderung menutup mata terkait pengelolaan APBD DKI 2018. Salah satu contohnya adanya ketiadaan anggaran lift rumah dinas sebesar Rp 750 juta dalam alokasi anggaran di APBD 2018.
Uchok merasa heran karena tiba-tiba saja pengadaan lift itu masuk dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) di Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintahan (LKPP).
“Masyarakat curiga kalau ditutup-tutupi berarti ada niatan menggarong APBD. Coba dong dibuka lagi APBD 2018 kepada publik,” kata Uchok, Kamis (01/02/2018).
Lebih lanjut Uchok menjelaskan bahwa adanya ketidakterbukaan dapat menjadi pintu masuk untuk terjadinya tindak pidana korupsi. Terlebih dalam anggaran renovasi rumah dinas dan pengadaan lift senilai Rp 752 juta tersebut juga tidak melalui pembahasan bersama banggar DPRD.
“Kalau Ketua Banggar saja tidak tahu soal pengadaan lift itu berarti ada siluman. Gubernur sebagai pengguna anggaran seharusnya mengetahui. Jangan lagi berdrama seakan-akan tidak tahu dan kemudian menjadi pahlawan dengan memerintahkan menghapus. Masyarakat sekarang sangat kritis, mereka tidak kecele dengan drama seperti e-KTP,” jelasnya.
Uchok juga merasa bersyukur dengan adanya sistem e-Budgeting yang telah diinisiasi oleh Gubernur sebelumnya. Menurutnya apabila sistem tersebut ditiadakan, maka proyek siluman seperti itu dapat masuk dengan leluasa yang dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
“Apakah e-budgeting tidak dilaksanakan lagi sehingga timbul anggaran siluman itu? Kalau begini terus, potensi membuka pintu anggaran siluman masuk semakin lebar,” kata Uchok.

Sember Berita Dari. ( HARIANINDO.COM )

Comments

Popular posts from this blog

Sandi Uno Perbolehkan Pengemis Minta-minta di Wihara

Yusril Sebut Jokowi Berpotensi Kalah Telak oleh Kotak Kosong, Dede: Harusnya Ngaca Sril

Ini Loh 16 Penendang Free Kick Terbaik Sepanjang Masa, No 1 Memang Rajanya!